Program L2T2, DLH Metro Imbau Warga Rutin Sedot Tinja

Kendaraan sedot tinja DLH Kota Metro./Ist

Cilukba.co, Metro–Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Metro mengimbau warga rutin melakukan sedot tinja minimal 3 Tahun sekali.

Sekretaris DLH Kota Metro, Yerri Noer Kartiko mengatakan sedot tinja minimal 3 tahun sekali merupakan upaya penanganan lingkungan pencemaran Saptitenk (Penampungan tinja) terhadap air sumur dan lingkungan sekitar.

“Upaya ini penerapan Perda nomor 15 Tahun 2019. Kalau tangki septitenk harus disedot satu kali dalam 3 tahun. Tujuannya supaya tidak terjadi rembesan air Saptitenk ke sumur atau lingkungan,” kata dia, Selasa (3/11/2020).

Dikatakannya, penerapan nantinya melalui program layanan lumpur tinja terjadwal (L2T2).

“SOP sudah ada dibantu penyusunannya oleh SNV. Sedangkan KPP sedang dibuat, tapi ini masih pelatihan sampai Desember. InsyaAllah berencana sich launching di awal tahun depan, dimulai dari rumah-ruman ASN,” ujarnya.

Menurut dia, belakangan mulai banyak bermunculan kasus pencemaran air sumur yang dicurigai bersumber dari rembesan tangki Saptitenk.

“Kami masih buat bahan paparannya. Kalau paparan L2T2 nya sudah, tinggal yang Perda. Dalam hal ini Kota Metro agak lumayan tertinggal dibandingkan kota lain, terutama yang di Jawa, seperti Solo, Gresik, Tangerang, Depok, Bekasi, Bogor. Mereka sudah merupakan pola ini sejak beberapa tahun lalu,” tambahnya.

Dalam waktu dekat, dia melanjutkan, pihaknya akan gencar menyosialisasikan L2T2 serta Perda no 15 tahun 2019 kepada masyarakat di Kota Metro.

“Mulai Senin selama dua pekan saya diminta DPRD sosialisasi Perda sekalian L2T2. Nah ini akan kami upayakan secara maksimal supaya penerapannya nanti sesuai harapan,” ucapnya.

Sementara, pihaknya juga akan mengkaji kebutuhan sarana dan prasarana dalam penerapan sedot tinja tiga tahun sekali tersebut.

“Semestinya kegiatan ini ada di Dinas PU atau Dinas Perkim sebagaimana Kementeriannya yang sesuai. Tapi karena sedot tinja ada di LH, ya sementara ini sebagaimana juga di Perda, kita jalani dulu. Nanti kami tinggal penambahan armada dan SDM serta peningkatan kerjasama dengan swasta,” imbuhnya.

Dia menambahkan, upaya L2T2 juga bertujuan sebagai peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) sektor sedot tinja kedepannya.

“Untuk peningkatan PAD, kita mau mulai dari data dulu, Mas. Nanti sedot tinja, nggak harus nunggu mampet, mampet nggak mampet harus disebut. Kalau nanti sudah L2T2, 5 armada saja sepertinya kurang. Karena banyak rumah atau bangunan yang tangki Saptitenknya puluhan tahun nggak pernah disebut,” pungkasnya.(rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *